Posted by: investasi180 | February 3, 2009

Zona Nyaman

(Sebelumnya, artikel ini dibuat untuk menggambarkan saja, apabila ada teman2 yang hidupnya dan pola pikirnya lebih baik dari yang digambarkan, bersyukurlah, dan ditunggu postingannya untuk sebagai contoh baik kepada teman-teman yang lain. )

Zona Nyaman…

Kedengarannya enak yah… Hidup mau apa-apa ada, hati senang, banyak teman, dunia milik kitalah, apa yang kita inginkan akan tercapai kok… nantinya, atau lihat nanti aja, atau pasrahkan saja nasib dengan keadaan sekarang. Hmmm…

Apa sih arti sesungguhnya dari Zona Nyaman ? Mari kita lihat…

Menurut Wikipedia di http://en.wikipedia.org/wiki/Comfort_zone

Zona Nyaman adalah
“One’s comfort zone refers to the set of environments and behaviors with which one is comfortable, without creating a sense of risk.”

O gitu… Apa tuh? Baik sedikit ditranslate bagi yang ga ngerti,
“Sebuah lingkungan dan kebiasaan yang diciptakan dengan nyaman, tanpa adanya gangguan akan resiko.”

Waduh, kok jadi saya yang bingung, begini2…
Zona nyaman adalah pikiran kita yang membuat bahwa hidup kita itu sekarang sudah nyaman, dan menyampingkan resiko-resiko yang mungkin atau sedang terjadi. Nah begitu…

Oooo… Selama ini berarti benar, saya berada di Zona Nyaman.
Terus kenapa emangnya kalau berada di Zona Nyaman, apakah salah? Mari kita lihat…

http://www.pengembangandiri.com/articles/46/1/Geser-Zona-Nyaman-Raih-Kemajuan/Page1.html

Pada artikel tersebut jelas banget semuanya dijelasin. Nah, sekarang fakta yang terjadi…


Keadaan Baik ?

Dalam keadaan baik biasanya orang cenderung konservatif, wajar bangetlah ya… Tapi kata-kata relatif disini berperan. Karena “baik” bisa berarti berbeda bagi orang yang berbeda juga. Berikut adalah rangkuman kasus disekitar kita.

  • Kasus 1 :
    Belum menikah, belum bekerja tapi mendapat uang bulanan dari ortu, dan mendapat fasilitas di rumah.
  • Kasus 2 :
    Belum menikah, sudah bekerja punya penghasilan sendiri, tapi masih mendapat uang bulanan dan failitas yang memadai di rumah.
  • Kasus 3 :
    Belum menikah, sudah bekerja namun menjadi sumber penghasilan utama di keluarga, dan penghasilannya hanya cukup menghidupi keluarga yang sekarang, belum bisa untuk menikah dan menambah keluarga baru.
  • Kasus 4 :
    Sudah menikah dan sudah bekerja, namun masih tinggal bersama orang tua. Dan gaji belum bisa membantu orang tua, masih untuk keluarga kecil saja.
  • Kasus 5 :
    Sudah menikah dan sudah sedikit mapan, tinggal terpisah dengan orang tua, namun sibuk dengan keluarga sendiri karena sudah permasalahan baru di keluarga baru.

Mungkin menurut anda ada kasus 6,7,8 dst. Pasti ada, boleh menerima masukan kok, tapi ini hanya 5 yang umum saja. Ditunggu kasus berikutnya.

Dari 5 contoh kasus yang umum tersebut, semuanya baik pastinya bila kita melihat dari sudut pandang orang yang dibawah kita. Maksudnya? Rp. 1000,- bagi yang punya Rp. 100.000,- itu sedikit. Namun bagi yang tidak punya uang itu banyak.

Kasus 1 :
Belum bekerja dapat uang jajan dari ortu, tinggal di rumah yang nyaman, dapat makan, tidur nyenyak dan seterusnya bagi sebahagian orang adalah hidup yang nyaman sekali, Sesuai dengan pengertian wikipedia,

…without creating a sense of risk.”

Maka coba kita tambahkan resiko kepada teman kita yang mengalami kasus 1.

Sumber dana (dalam hal ini orang tua) kita berhenti, entah karena sakit, PHK, Pensiun ataupun meninggal. Apa yang terjadi ? Biasanya teman kita di kasus 1 akan kebingungan, karena tidak ada sumber pemasukan lagi, berarti tidak ada failitas lagi. Semua yang tadinya nyaman berubah total. Ini tentunya contoh kelas keluarga yang tidak meninggalkan warisan. Apabila sejak dini resiko itu ditambahkan, maka harusnya teman kita di kasus 1 ini akan berusaha untuk mencari penghasilan lebih keras lagi, minimal untuk dirinya sendiri dan mengurangi beban orang tua.

Kasus 2 :

Sudah bekerja, namun masih diberikan uang bulanan oleh orang tua. Yang terjadi adalah teman kita di kasus 2 ini akan menghabiskan gajinya untuk keperluannya sendiri. Ini membuktikan bahwa kasus 1, tidak cukup diselesaikan dengan bekerja saja. Dengan ditambahkannya…

a sense of risk.”

Maka kasusnya tidak jauh beda dari kasus 1, bedanya teman kita di kasus 2 akan mulai menata keuangannya lebih hati-hati ketika sumber dana berhenti. Dan berkuranglah gaya hidupnya yang tadinya mewah.

Kasus 3 :
Berpenghasilan besar pastinya bagus, sukses seperti kata orang-orang. Banyak yang ingin mencapai ke tahap ini, dengan cara berpindah-pindah perusahaan. Atau bekerja keras hingga larut malam. Tapi permasalahannya teman-teman di kasus 3 adalah seorang sumber dana dikeluarganya, dihadapkan antara orang tua dan kehidupan priibadinya dengan keinginan atau ambisi pribadinya. Banyak yang terjebak lama di zona ini. Karena sebenarnya ini adalah sebuah bentuk dari Zona Nyaman. Karena mereka bisa menghidupi keluarganya, namun ambisi dan keinginannya menjadi korbannya. Teman kita ini lebih cepat memasuki masa sebagai sumber dana, dikala mereka belum menikah. Yang akhirnya membuat teman kita pasrah akan keadaan dan membiarkan kehidupan pribadinya. Karena asik mencari uang, maka lupa umur sudah kepala 3+ dan belum menikah. Tidak salah, namun karena kejebak di Zona Nyaman. Jadi tidak ada keinginan dan tindakan untuk mendapatkan lebih guna memenuhi kebutuhan orang tua dan istri kelak.

Kasus 4:

Sudah menikah dan bisa menghidupi keluarga sendiri. Ini menjadi kategori sukses juga. Tapi masih menumpang dengan orang tua… Ga salah kok, apalagi kalau udah ada yang meninggal, bener banget. Ga salah, tapi pertanyaannya, Kita yang numpang apa mereka yang menumpang? Ga salah juga kok, tapi apakah kita sudah benar-benar bisa berkeluarga dan memasuki kehidupan perkawinan yang sebenarnya ?

Karena dengan tinggal bersama orang tua, berarti kehidupan kita masih diatur dan diawasi oleh orang tua kita, sehingga kedewasaan dalam kehidupan pernikahan akan sulit terbangun.

Lalu nasib orang tua bagaimana kalau kita tinggalkan mereka? Sudahkah bisa mensupport istri, orang tua dan anak secara bersamaan mungkin? Atau hanya pasrah dan mengikuti alur kehidupan. Ataukah tidak pasrah sebenarnya, namun berat tinggalkan istri dan anak terlalu lama untuk mencari tambahan.

Kasus 5 :

Udah pisah dengan orang tua karena sudah mampu hidup sendiri, bagus sekali !! Banyak orang menganggap hidup di zona ini sebagai sukses.

Namun hidup dengan keluarga baru dengan tantangan baru, dengan cicilan baru, dengan budget baru merupakan permasalahan baru. Belum sempat memikirkan orang tua, sudah dihadapi dengan masalah baru.

Waktu yang menjadi kendala disini biasanya, serba salah… Apabila mencari uang hingga larut, tidak bertemu anak dan istri. Tapi tidak mencari tambahan berarti tidak bisa mensupport orang tua.
Ini kasus “keadaan baik” menurut sebagian orang, sepertinya tidak perlu dijelaskan lagi seperti apa ketika “keadaan buruk” menurut kita…

Jadi lihatlah hidup kita secara “bird eye view” lihat dari atas, lihat ancaman yang mungkin datang di sekeliling kita, lihat apa yang sudah kita perbuat untuk diri kita sendiri kita, dan untuk sekeliling kita.

Bersyukur dengan keadaan, Pastinya! tapi tidak maukah kita bersyukur karena bisa menyenangkan orang lain… Dan hidup dengan kondisi yang benar-benar Nyaman dimana setiap orang akan menyetujui bahwa itu adalah hidup yang Nyaman dan bukan rekaan pikiran kita yang menyebutkan bahwa hidup kita sudah Nyaman.

Saya yakin sekali pasti kita bisa menyenangkan diri sendiri, dengan nonton DVD, tidur, makan, pergi jalan-jalan, berinternet ria, bermain video games dsb, namun bila mengacu ke orang lain sudahkah kita bisa menyenangi mereka, lahir batin?

Keluarlah dari Zona Nyaman kita untuk orang lain bukan untuk kita sendiri. Keluarlah dari Zona Nyaman ketika lingkungan kita membutuhkan eksistensi kita yang sesungguhnya. Orang tua, saudara kandung, pacar, istri atau anak kita membutuhkan kita dengan sebenar-benarnya. Yaitu eksistensi kita disamping mereka, namun bila materi yang dibutuhkan maka kesampingkan EGO kita, Gengsi kita, dan ketidakpercayaan diri kita demi mereka.

Karena mereka butuh 22nya Waktu yang berkualitas dan Materi yang cukup (Lahir dan Batin)… Karena kalau berat sebelah pasti ada saja permasalahan yang muncul. Permasalahan waktu, atau permasalaahan materi. Dengan 22nya kita bisa dengan maksimal menyenangkan mereka. Maka kita akan berada di Zona Nyaman yang sesungguhnya… Yaitu Lahir dan Batin…

Atau solusi dari website berikut :

http://www.lifehack.org/articles/lifehack/how-to-break-out-of-your-comfort-zone.html

http://www.bobparsons.me/WanttobesuccessfulGetoutofyourcomfortzoneStartanewbusinessRiskyourlifeTrypublicspeakingp.html


Leave a response

Your response:

Categories